Bunda Uun, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Asal Parung

vemale.com

vemale.com

Siapa yang tidak kenal Oprah? Wanita Afrika Amerika, terkenal akan kedermawanannya yang tidak tanggung-tanggung. Masa kecilnya yang sulit mendorongnya untuk mendharmakan sebagian hartanya untuk orang-orang membutuhkan.

Masyarakat di desa-desa di Parung Panjang, Bogor, beruntung karena mereka memiliki Oprah mereka sendiri. Ia adalah Dessy Suprihartini atau yang biasa disebut Ibu Uun. Ibu Uun bukanlah milyarder seperti Oprah yang bisa mendonasikan berjuta-juta dolar uangnya ke orang yang tidak mampu, tapi Ibu Uun memulai kegiatan sosialnya dengan mendonasikan seluruh waktu dan tenaganya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat di desa tempat ia tinggal.

Kesamaan antara Oprah dan Ibu Uun adalah masa kecil mereka yang sulit. Hal ini yang mendorong mereka untuk membantu sesama. “Dari kelas 1 SD, saya ditinggal sama bapak saya. Ibu saya juga hanya seorang PNS beranak 3 yang penghasilannya pas-pasan,” ungkapnya. “Saya udah ngerasain perihnya hidup susah, makanya saya peduli dan berusaha membahagiakan mereka dengan meyakinkan bahwa mereka tidak sendiri.”

Berawal dari tahun 1988, Ibu Uun yang masih berusia belasan tahun bekerja sebagai pendamping pasien dan PMO (Pengawas Minum Obat) untuk penyakit tuberculosis (TBC). Tahun 2000, Ibu Uun mengundurkan diri dari pekerjaannya karena ia ingin lebih luas lagi membantu warga miskin, bukan hanya di penyakit paru-paru saja. Akhirnya hingga sekarang, Ibu Uun pun mengambil jalur independen, serta merambah bukan hanya di bidang kesehatan, tapi juga pendidikan dan pemberdayaan wanita.

Dimulai dari mengurus Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), mencari rujukan rumah sakit untuk penderita kanker, hingga mengadakan nikah masal agar para wanita bisa memaksimalkan peranan wanitanya sebagai ibu, semua sudah dilakukan oleh Ibu Uun. Setiap tetes keringat dan setiap langkah usahanya tentu membawa cerita sendiri. “Saya bahagia bila bisa mengubah anak-anak gizi buruk menjadi gizi baik. Merupakan kebahagiaan luar biasa bagi saya untuk melihat semangat luar biasa dari orang-orang ini yang akhirnya pun berniat untuk mengikuti jejak saya,” ujarnya.

“Sungguh haru jika orang yang saya tolong berusaha keras dalam mengalahkan penyakitnya. Namun tidak jarang, walau ia sudah berusaha keras, tapi tetap tidak tertolong karena penyakitnya sudah mencapai stadium 3 dan 4,” ujar Ibu Uun sambil menahan isak. “Bila kondisinya sudah seperti itu, saya hanya mampu memberikan semangat dan janji bahwa saya akan membantu mengurus segalanya hingga ke akhir.”

Mengalami berbagai peristiwa memilukan, tidak membuat Ibu Uun berhenti dan menyerah. Ia malah terus mengajak banyak orang untuk melakukan hal yang sama. “Untuk menjadi relawan seperti saya, tidak perlu jadi orang kaya. Lakukanlah apapun yang bisa dilakukan. Dengan tenaga, dengan pikiran, dan paling penting, dengan keberanian,” ujar Ibu Uun sambil tersenyum.

Source: Vemale

Add Comment