SUBHANALLAH…! KISAH NYATA: KETIKA RENTENIR ITU KAMI BAWAKAN AMBULANCE JENAZAH…

Ini
kisah nyata, terjadi bulan Mei 2012 di Jogja ketika gerakan‪
‎SedekahRombongan‬ belum setahun umurnya. Ada pasien terkena gejala
stroke yang membuatnya tdk bs berjalan, dan tidak bs berjualan di
pasar. 



Namanya
bu SM, ibu beranak 6 orang yg masih kecil-kecil, suaminya buruh tani
serabutan. Bu SM setiap hari berjualan di pasar untuk menghidupi
anak-anaknya. 



Ketika
sdh opname seminggu lebih di rumah sakit Panti Rapih Jogja, kondisinya
sdh membaik. Sy datang kesana untuk mencari tau tentang kondisi
keluarganya, dan. Terbukalah semuanya… Ternyata beban hidup bu SM
sudah level akut karena hutang di beberapa rentenir. Hutangnya dari 5
juta jadi belasan juta, rumah mereka yang berlantai tanah tiap hari
disatroni rentenir dengan seribu sumpah serapah, sampai anak-anak mereka
yang kecil ketakutan. Sertifikat rumah disita, tiap bulan harus
membayar berjuta-juta, padahal untuk makan saja tak bersisa..





Setelah
kordinasi dengan beberapa kurir SedekahRombongan, kami sepakat untuk
menyelesaikan kasus itu.. Dana tersedia dari para donatur, kami akan
gunakan untuk menuntaskan kasus duafa terdzolimi ini.



Hari
H nya, saya mengajak Wawan Abduh, kurir SedekahRombongan Jogja yang
badannya besar, mantan sopir truk, tapi mlipisss bahasa Jawanya.. Hehe

“Wan, kita bawa ambulance jenazah aja yak.. Lumayan ben kethok gagah, nek obah medeni bocah.. Hehehe”


Berangkaat!
LOKASI PERTAMA: Pasar Sentul Jogjakarta
Kami
menyusuri kios pasar tempat bu SM biasa jualan, ternyata dari daftar
yang kami bawa ada hutang ke Bangke (Bank Keliling) disana yg memberi
hutangan dengan bunga mencekik! Kami cari rentenir itu tidak ketemu,
seorang ibu tetangga kiosnya menyarankan uang dititipkan padanya,



“Kalo gak dibayar segera nanti nambah terus mas dendanya, saya bayarkan saya nanti kalo orangnya muter sedang nagih..”


Urek-urek-urek! Kwitansi kami terima.. Lanjut lokasi berikutnya..
LOKASI KEDUA: jalan Pramuka Jogja.
Rumahnya masuk gang, ambulance kami tinggalkan di pinggir jalan. Benerr ini rumah rentenir, jauh dari
kesan kaya, tapi ketika masuk terbukti praktek itu ada. Si rentenir
menunjukkan sisa hutangnya, kami ngeyel tidak mau membayar bunganya.
Sisa 1,5 juta kami bayar, urek-urek-urek!



“Bu, jangan pernah lagi nagih hutang ke Bu SM, kalo masih ngeyel nanti urusan dengan kami…”


Si rentenir cuman merengut.

LOKASI KETIGA: dusun Maguwo, Selatan Bandara Jogja.
Ini
rentenir dandanannya mirip dengan wanita si juragan kontrakan di film
Kungfu Hustle, hehe.. Pakai daster, ngerokok, rambut kriting dipotong
seset kayak lelaki, pakai gelang dan kalung emas.. Wajahnya suram tak
ada sedikitpun keramahan.

Ketika
kami meminta sertifikat rumahnya yang ditahan, dia membuka lemari..
Masya Allah! Itu lemari isinya ratusan sertifikat tanah dari para korban
yang dijeratnya. Ck ck ck… Gile dah!!



Sertifikat berhasil kami ambil, dengan intimidasi seperti yang kedua tadi.
Di jalan saya membaca rincian nota hutangnya:
Pinjam 7.000.000
Biaya survey: 1.250.000
Administrasi: 300.000
Terima uang: 5.450.000
Bunga: 10% /bulan
Edaaaan!! Gendeeeeng!!!


Gimana gak remuk para pedagang pasar dimana-mana kalo begini. Cair tanpa agunan, diplorotin tiap hari sampai ke tulang!
LOKASI KE EMPAT: jalan raya Berbah-Prambanan, Jogja.
Rentenir ini rumahnya di pinggir desa, depannya jalan raya.
“Wan.. Pepetkan ambulance di depan pintu rumahnya” kata saya
Dan benar ketika kami turun, rentenir itu gelagepan. Hehe..
Kami selesaikan hutangnya segera dan intimidasi untuk tidak lagi datang ke rumah bu SM.
Eh.. Itu rentenir malah curhat,
“Mas..
Kalo saya minta bantuan buat cucu saya bisa, jantungnya bocor harus
bolak balik ke rumah sakit, ini rumah saya juga baru rusak, kemarin pas
hujan angin atapnya rontok, gentengnya pada jatuh.. “

Ini saatnya bisa syiar, Wawan langsung nyikat!
“Laaah..
Njenengan cari uang haram kok! Gak kapok jadi rentenir? Ya siap-siap
aja sama Allah dibuat terus susah hidupnya. Tobat lah bu, cari rejeki
yang berkah saja!”

Klakep.. Diem! Gak bisa jawab dia. Hehehe..
Dengan santainya ambulance jenazah kami putar balik di depan rumahnya..
LOKASI TERKAHIR: dusun di daerah Berbah Sleman.
Menurut
anak bu SM, rentenir ini paling garang, kalau datang pasti sampai masuk
ke dapur sambil mencaci maki seluruh keluarganya, termasuk anak-anaknya
yang masih kecil.

“Mainkan Wan, pepetin ambulance ke depan pintu rumahnya, biar gak bisa keluar dia”
Seeeettt!! Rapeeet..
Ak ik uk.. Ak ik ukk.. Si rentenir tiba-tiba kayak orang gagu ketika gantian kami interogasi.
Dia
mengeluarkan buku catatannya, tetep ngelesss katanya dia hanya petugas,
juragan rentennya mangkal di pasar Prambanan, anak buahnya keliling
mencari mangsa.

“Mbak,
kalo njenengan gak berhenti jadi rentenir, siap-siap Allah mengazab di
dunia, mau sakit parah, kecelakaan, karena dzalim ke sesama? Ya
ambulance kita siap kok ngangkut mbak sekarang juga..”

Wajahnya makin pucet, bengong klakep gak bisa jawab!
“Mulai
sekarang, kalo njenengan masih berani datang ke rumah bu SM sambil
mencaci maki lagi, njenengan urusan dengan kami semua.. Ambulance
siap!!”

Hehehe… Puass bener hati ini melihat tingkahnya gak berkutik.. Ndungkluuuk pas nulis kwitansi.
Sepanjang
jalan saya ketawa ngakak bareng Wawan, antara ngenes dan bahagia! tugas
selesai.. Sertifikat kami serahkan kepada bu SM ketika dia kembali ke
rumah sakit.

Kawan-kawan
semua, silahkan kalian bisa bergerak bareng-bareng di kota
masing-masing, bikin gerakan seperti GARR (Gerakan Anti Riba &
Rentenir) di Bekasi. Terserah namanya apa.

Nyetak
spanduk ukuran 4 x 1 meter paling habis 60.000 saja, pasang di
sudut-sudut wilayahmu. Paling tidak spanduk itu sudah bikin ngeri para
rentenir yang muter nawarin hutang-hutang yang mencekik leher.

Setiap
kebaikan harus berantai, dan harus kita yang memulai. Gak usah nunggu
aparat bergerak, kekuatan masyarakat yang bersatu lebih besar jika
digalang bersama-sama!

Berani?! Ayoo dimainkan!!

Seminggu kemudian, setelah laporan bantuan untuk Bu SM tayang di web sedekahrombongan.com, saya mendapat SMS:
“Mas
Saya umur 28 tahun, sudah dua bulan saya tidak bisa bayar cicilan
motor, bisakah saya mendapat bantuan SedekahRombongan untuk melunasi
motor saya?”

Saya jawab: “ok kami bantu hari ini juga, tapi kamu kena stroke dulu yaaa…”
dan SMS saya tak pernah dibalas…
@Saptuari 


Sumber: Ditulis oleh: Saptuari Sugiharto  di grup Belajar Wirausaha Bareng Saptuari

Add Comment