Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan

Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan – Perlawanan gigih rakyat Minangkabau di Bonjol sangat meletihkan Belanda. Nama baik pemerintah Hindia Belanda di dunia luar menjadi luntur.

Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan ( Foto @hanyatauaja )

Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Tuanku Imam Bonjol

Lahir : Di Pasaman ( Sumatera Barat ), 1772
Wafat : 8 November 1864

Beliau lahir di Tanjung Bunga, Sumatera Barat pada tahun 1772, Karena perjuangannya yang patut menjadi suri tauladan maka Pemerintah Indonesia memberinya gelar Pahlawan Pejuang Kemerdekaan pada tanggal 6 November 1973. Tuanku Imam Bonjol memiliki nama asli Muhammad Sahab. Beliau adalah seorang guru Agama yang mendapat ilmu Agama di Aceh dan kemudian bergelar Malim Basa. Sekembali ke Minangkabau, beliau juga mempelajari ilmu perang di samping ilmu Agama kepada tuanku Nan Renceh. Saat itu pertentangan antara Kaum Adat dan Kaum Paderi semakin memanas sehingga beliau membangun benteng di Bukit Tajari yang diberi nama Bonjol. Selanjutnya, beliau lebih dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol. Pada tahun 1821, pecah perang saudara antara kaum Padari bersama para ulama yang ingiin melaksanakan ajaran Agama dengan baik dengan kaum Adat. Peperangan ini tidak lepas dari politik adu domba yang diterapkan Belanda. Sungguh hebat perjuangan Imam Bonjol, berkali – kali beliau mendapat kemenangan di setiap pertempuran. Kekalahan Belanda itu mempunyai akibat yang luas. Mereka khawatir, daerah yang sudah dikuasai akan berbalik melawan Belanda.

Mereka bertekad lagi untuk segera merebut Bonjol karena menyangkut harga diri pemerintah Hindia Belanda. Perlawanan gigih rakyat Minangkabau di Bonjol sangat meletihkan Belanda. Nama baik pemerintah Hindia Belanda di dunia luar menjadi luntur. Panglima tentara Hindia Belanda, Mayo Jenderal Cochius, mengajak Tuanku Imam Bonjol untuk berunding.

Sungguh dalam keadaan yang sangat terjepit, ajakan itu ditolak oleh Tuanku Imam Bonjol. Belanda kemudian merebut Padang Bubus dan Tanjung Bunga. Pertempuran sengit terjadi di sebuah bukti di dekat Benteng Bonjol. Dari bukti itu, meriam Belanda menggempur Bukit Tajadi.

Akibat muntahan peluru meriam – meriam Belanda selama seminggu pada bulan Agustus 1837, Benteng Bonjol rusak hebat. Belanda memusatkan segala serangan untuk merebut Bukit Tajadi guna membungkam meriam – meriam pasukan Bonjol. Sebagai pancingan, Belanda melakukan gerakan tentara yang hebat di sebalah barat dan selatan.

Perhatian Imam Bonjol sepenuhnya dicurahkan ke arah gerakan itu. Pertahanan Bukit Tajadi tidak diperhatikan. Bukit Tajadi jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 15 Agustus 1837. Akibatnya, Benteng Bonjol menjadi lumpuh.

Benteng Bonjol jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 16 Agustus 1837. Tuanku Imam Bonjol dapat meloloskan diri ke luar Benteng. Beliau terus memimpin perang gerilya di hutan – hutan. Keadaan badan beliau sudah sangat lemah, tetapi semangat beliau tetap membara.

Tuanku Imam Bonjol menyingkir ke Koto Marapak sambil mengorbankan semangat perlawanan. Pengejaran dilakukan terhadap diri Imam Bonjol. Keadaan menjadi berat sekali bagi pasukan Bonjol. Putera Tuanku Imam Bonjol bernama Yusuf, menyerah pada bulan September 1837.

Sebulan kemudian, yaitu pada tanggal 28 Oktober 1837 ada undangan dari Residen Francis agar Imam Bonjol datang ke Palupuh untuk berunding. Kali ini beliau memenuhi undangan Belanda. Dengan ditemani puteranya dan tiga orang pengiring, Tuanku Imam Bonhol datang ke Palupuh.

Sesampainya di sana bukan Residen Francis yang ditemui, tetapi sepasukan tentara Belanda yang telah siap untuk menangkap beliau. Tuanku Imam Bonjol segera ditawan pada tanggal 28 Oktober 1837. Beliau telah menjadi korban dari tindakan lawan yang tidak bersikap kesatria. Mula – mula beliau dipenjara di Buktitinggi, akan tetapi Belanda masih takut pengaruh Beliau, maka Beliau dipindah ke Padang kemudian pada tanggal 23 Januari 1838 di pindah ke Cianjur dan akhirnya di pindah ke Manado pada tanggal 19 Januari 1939.

Setelah menjadi tawanan Belanda selama 27 Tahun Beliau wafat pada tanggal 8 November 1864 dalam usia 92 tahun.

Add Comment