Wafatnya Ulama, Salah Satu Tanda Kiamat

SATU per satu umat muslim
kehilangan sosok para ulamanya. Dalam sepekan terakhir, telah berlalu Syaikh
Muhammad Ayyub dan KH Ali Mustafa Ya’qub. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa
sallaam bersabda tentang hal ini dalam haditsnya,

“Sesungguhnya Allah
Ta’ala tidak mencabut ilmu dari manusia dengan sekali cabutan, akan tetapi Ia
mencabut ilmu tersebut dengan cara mencabut (nyawa) para Ulama, sehingga
apabila tidak tersisa lagi seorang yang pandai (di dunia ini), maka orang-orang
akan menunjuk seorang yang bodoh menjadi pemimpin (panutan) mereka. Kemudian
mereka ditanya (tentang sesuatu perkara) kemudian mereka memberikan putusan
tanpa menggunakan ilmu sehingga mereka menjadi tersesat dan menyesatkan orang
lain.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menjelaskan
bahwa di antara tanda-tanda hari kiamat kelak adalah hilangnya ilmu pengetahuan
(terutama ilmu syariat) dari dunia. Adapun cara hilangnya ilmu tersebut bukan
dengan menghilangkan ilmu tersebut dari hati orang yang berilmu.
Akan tetapi caranya adalah
dengan mencabut nyawa orang yang berilmu, baik secara perorangan ataupun
berkelompok, seperti wabah maupun peperangan sehingga tidak tersisa lagi di
dunia ini kecuali orangorang yang bodoh.
Setelah habisnya orang
berilmu, maka yang terjadi selanjutnya adalah orangorang akan menjadikan orang
yang bodoh sebagai panutan mereka sehingga yang terjadi setelah itu adalah
kesesatan dan saling menyesatkan.

Hadits di atas juga
memberikan kepada kita beberapa faedah. 

Yang pertama; keutamaan ilmu dan orang
yang berilmu sehingga hilangnya ilmu menjadikan orang-orang menjadi tersesat dan
saling menyesatkan.
Kedua, makruh hukumnya
mengangkat seorang pemimpin yang bodoh. Karena hal tersebut bisa menghancurkan
umat karena kebodohannya. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah bersabda bahwa
apabila suatu urusan tidak diberikan kepada ahlinya, maka kehancuran tinggallah
menunggu waktu.
Begitu pula, Allah Ta’ala
menjadikan keleluasaan ilmu pengetahuan Thalut sebagai salah satu alasan atas
pemilihan Thalut sebagai Raja bagi Bani Israil. Adapun yang terakhir, haram
hukumnya memberikan putusan (fatwa) terhadap suatu perkara yang kita tidak tahu
secara detil akan perkara tersebut.
Hendaknya kita juga
berhati-hati sebelum memberikan fatwa. Diriwayatkan bahwasanya Imam Syafii
pernah ditanya tentang sesuatu dan beliau tidak menjawabnya, kemudian
ditanyakan kepada beliau kenapa beliau belum menjawab juga pertanyaan tersebut.
Maka beliau menjawab: aku tidak akan menjawab sebelum aku mengetahui mana yang
lebih baik, diam atau menjawab.
Begitu pula, Imam Malik pernah
ditanya tentang 42 permasalahan, 32 di antaranya beliau jawab dengan :
“Saya tidak tahu”. Wallahu alam bis shawab.

sumber : mozaik.inilah.com

Add Comment