Wajib Baca! Ini Gambaran Rumah Tangga Sakinah Bagi Seorang Wanita Solehah!

Berbagi Bukanlah Hal Sulit, Menyebarkan 1 Kebaikan Akan Memanen 100 Kebaikan Di Kemudian Hari

Bagi seorang wanita mukminah, pernikahan adalah salah satu perwujudan
Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan sarana untuk mencapai
keridhaan-Nya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Nikah
adalah sunnahku. Barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku maka
bukanlah termasuk golonganku. Menikahlah, karena aku akan bangga dengan
banyaknya jumlah kalian di hadapan umat lain di hari kiamat. Barangsiapa
yang telah memiliki modal, hendaklah ia menikah. Dan barangsiapa yang
tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu penekan hawa
nafsunya” (HR. Ibnu Majah).

Jika seseorang meniatkan di awal pernikahannya sebagai satu niat untuk
beribadah kepada-Nya, meninggalkan zina, dan mendekatkan diri
kepada-Nya; maka dia akan memperoleh pahala sesuai dengan apa yang ia
niatkan itu. Sebaliknya, jika ia mempunyai niat di awal pernikahannya
hanya sekedar untuk mencari harta, pangkat, kedudukan, atau popularitas;
maka ia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan.
Bahkan dosa jika yang ia niatkan tersebut merupakan maksiat. Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan itu
tergantung pada niat dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai dengan
apa yang niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tanggung Jawab Istri pada Diri Sendiri 

Diantara tanggung jawab istri kepada diri sendiri diantaranya adalah :

1. Menuntut ilmu syar’i

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah)

Yaitu :

– Ilmu tentang prinsip-prinsip ‘aqidah dan keimanan (Rukun Iman)

– Ilmu tentang apa-apa yang diwajibkan dalam rukun Islam, seperti syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji.

– Ilmu-ilmu penunjang yang bermanfaat lainnya.

Seorang ibu rumah tangga wajib mengetahui tentang pembatal-pembatal
syahadat, wajib mengetahui bagaimana cara thaharah dan sholat yang
benar, dan yang lain sebagainya. Tidak boleh terjadi pada seorang ibu
bahwa ia tidak mengetahui tentang hukum-hukum haidh, padahal haidh
adalah sesuatu yang rutin mendatanginya.

Bagaimana seorang ibu rumah tanga bisa menuntut ilmu di sela-sela
kesibukannya mengurus rumah tangga ? Hal yang pertama bahwa ia harus
menumbuhkan perasaan butuh dan cinta kepada ilmu. Jika seseorang telah
mampu menumbuhkan perasaan itu pada dirinya, maka ia akan memanfaatkan
semua kesempatan dimana ia bisa memperoleh ilmu, baik dalam
majelis-majelis ilmu atau membaca buku-buku. Dalam seminggu, usahakanlah
untuk dapat bermajelis ilmu minimal satu kali. Bisa ia menghadiri
majelis-majelis ilmu secara khusus, atau bermajelis dengan suaminya
untuk saling membacakan satu pembahasan dalam buku agama. Selain itu, ia
bisa memanfaatkan beberapa waktu luang dengan membaca buku agama saat
kesibukan belum menderanya, misalnya 15 – 20 menit sebelum sholat
shubuh;atau 15 – 20 menit setelah ‘isya’ di saat anak-anak telah tidur
di pembaringannya.

2. Mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

Adalah menjadi hal yang mutlak lagi wajib untuk mengamalkan ilmu. Amal
adalah buah ilmu. Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, ia
laksana tumbuhan yang tidak memberikan manfaat bagi makhluk hidup di
sekitarnya. Ilmu bisa menjadi pembela atau malah jadi bencana bagi diri
kita sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembela bagimu atau menjadi bencana bagimu” (HR. Muslim)

Contoh mudah yang bisa kita lakukan adalah ketika kita tahu bagaiamana
cara wudhu yang benar dari penjelasan Ustadz atau hasil membaca buku;
maka dengan tidak menunda-nunda kita praktekkan pada diri kita jikalau
mau melaksanakan sholat. Jika kita tahu tentang bahaya syirik, maka
dengan segera kita bersihkan diri dan rumah tangga kita dari hal-hal
yang berbau syirik seperti membuang segala macam jimat, rajah, gambar
makhluk hidup, atau benda pusaka keramat peninggalan leluhur (yang
tentunya harus dikomunikasikan secara bijaksana dengan suami). Dan yang
lain sebagainya.

Tanggung Jawab Istri pada Suami

Tanggung jawab istri kepada suami terkait erat dengan pemenuhan hak-hak
suami oleh istri. Harus menjadi satu pemahaman bahwa seorang laki-laki
adalah pemimpin bagi wanita. Seorang suami adalah pemimpin bagi istri
dan anak-anaknya di rumahnya. Allah swt berfirman : “Kaum laki-laki itu
adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan
karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka)” (QS. An-Nisaa’ : 34).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menggambarkan keagungan
hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya dengan sabdanya : “Gambaran
hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya adalah seandainya pada kulit
suaminya itu ada borok (luka), lalu dia (istri) menjilatinya, maka dia
belum benar-benar memenuhi hak suaminya” (HR. Ibnu Abi Syaibah 4/2/303
no. 17407; hasan ).

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang manusia untuk bersujud kepada
manusia lainnya, niscaya akan aku suruh seorang wanita untuk bersujud
kepada suaminya” (HR. At-Tirmidzi).

Ketaatan istri kepada suaminya merupakan salah satu faktor yang akan
membawanya masuk surga. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam
bersabda : “Jika seorang wanita mengerjakan sholat lima waktu, berpuasa
di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka
akan dikatakan kepadanya : ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana
saja yang engkau sukai” (HR. Ibnu Hibban , shahih).

Beberapa kewajiban istri yang harus dipenuhi kepada suaminya antara lain adalah :


1. Patuh kepada perintah suami

Hushain bin Mihshan mengkisahkan : Bahwasannya bibinya pernah mendatangi
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalam untuk satu keperluan. Setelah
menyelesaikan keperluannya, maka Nabi berkata kepadanya : ‘Apakah engkau
bersuami ?’. Aku menjawab : ‘Ya’. Beliau melanjutkan : ‘Bagaimana
sikapmu terhadapnya ?’. Aku menjawab : ‘Aku tidak pernah
membantahnya/menolaknya kecuali pada perkara yang tidak sanggup aku
lakukan’. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Maka
perhatikanlah sikapmu terhadapnya, karena sesungguhnya dia (suamimu)
adalah surga dan nerakamu” (HR. Ahmad).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang model
wanita yang paling baik, maka beliau menjawab : “Dia dalah seorang
wanita yang patuh saat suaminya menyuruhnya, menarik saat suaminya
memandangnya, menjaga kemuliaan suami dengan memelihara kehormatannya
sendiri, dan mengurus harta suami” (HR. An-Nasa’i ,shahih).

Catatan : Taat ini dengan syarat : Hanya dalam hal yang ma’ruf bukan dalam kemaksiatan.

“Tidak ada ketaatan dalam perbuatan maksiat kepada Allah. Ketaatan hanya
boleh dilakukan dalam kebaikan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, seorang istri tidak boleh taat kepada suaminya jika ia menyuruh
untuk membuka jilbab, menemani seorang laki-laki yang bukan mahram tanpa
ada suaminya, berbohong, dan lain-lain. Namun bukan pula berarti ia
membatalkan ketaatannya secara keseluruhan. Ia tetap wajib taat pada
hal-hal yang mubah dan yang disyari’atkan.

2. Tetap tinggal di rumah dan tidak keluar rumah kecuali setelah mendapat ijin dari suami.

Allah berfirman : “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah
kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang Jahiliyyah dahulu” (QS. Al-Ahzab : 33).

Tinggal di dalam rumah adalah hukum asal bagi seorang wanita. Ia tidak
boleh keluar melainkan dengan sebab dan syarat. Sebabnya adalah karena
hajat, dan syaratnya adalah ijin dari suami, berpakaian syar’i, tidak
memakai wangi-wangian, dan yang lainnya (yang akan dijelaskan kemudian).

Untuk hal-hal yang sifatnya rutinitas dimana ia telah mendapatkan ijin
dari suami secara umum, maka ia boleh keluar tanpa seijin suaminya
(walau meminta ijin tetap lebih baik). Misalnya : keluar rumah untuk
belanja di warung, menyapu halaman, dan lainnya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan salah satu
sebab mengapa wanita tinggal di dalam rumah : “Wanita itu adalah aurat.
Apabila ia keluar rumah, maka akan dibanggakan oleh syaithan” (HR.
At-Tirmidzi).

Hingga dalam permasalahan ibadah (sholat di masjid), rumah tetap lebih
baik bagi seorang wanita, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wasallam: “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke
masjid; akan tetapi sholat di rumah adalah lebih baik bagi mereka” (HR.
Abu Dawud)


3. Menerima ajakan suami.

Ini hukumnya wajib. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun
istrinya tersebut menolak (tanpa udzur yang dibenarkan syari’at) maka
para malaikat akan melaknatnya hingga waktu shubuh tiba” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim)

4. Tidak memasukkan seseorang ke dalam rumah kecuali dengan seijin suami.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya kalian (para suami) memiliki hak yang harus dipenuhi
mereka (para istri), agar mereka tidak mengijinkan seorangpun masuk ke
pembaringanmu seseorang yang tidak kamu sukai” (HR. Muslim).

“Dan janganlah seorang wanita mengijinkan seseorang masuk ke dalam rumah
suaminya sementara dia (suami) ada di sana, kecuali dengan ijin
suaminya tersebut” (HR. Muslim).

Larangan ini berlaku untuk orang-orang yang memang suaminya tidak
meridhainya. Namun bila orang tersebut termasuk orang-orang yang
diridhai – semisal kaum kerabat -, maka ia diperbolehkan menerimanya
masuk ke rumahnya dengan tetap menjaga kehormatan dirinya. Jika
orang/tamu tersebut laki-laki bukan termasuk mahram (semisal : teman
kerja suami atau tetangga), maka ia diperbolehkan untuk menerima dengan
catatan aman dari fitnah dan menghindari khalwat (berdua-duaan).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah seorang
laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya” (HR.
Al-Bukhari  dan Muslim).

5. Tidak bersedekah dengan harta suami kecuali mendapat ijin darinya

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah seorang
wanita menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali seijin suaminya
tersebut” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

6. Berterima kasih kepada suami dan tidak mengingkari kebaikannya, serta memperlakukan suami dengan baik.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan
melihat kepada wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya,
padahal ia tidak mungkin lepas dari ketergantungan padanya” (HR. Nasa’i)

Berterima kasih ini tidak hanya sebatas lisan, tapi terwujud pada
penampakan rasa bahagia dan nyaman selama mendampingi suami dan melayani
kebutuhannya dan kebutuhan anak-anaknya, tidak mengabaikannya, tidak
mengeluh dengan segala kondisi yang dialami bersamanya, dan yang
lainnya.

7. Tidak mengungkit-ungkit kebaikannya kepada suami, jika kebetulan dia menafkahi suami dan anak-anaknya.

Adakalanya seorang suami diberi cobaan berupa sakit, cacat, atau yang
semisalnya sehingga ia tidak bisa memberi nafkah sebagaimana mestinya;
yang dengan itu istri menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari
nafkah. Haram hukumnya mengungkit-ungkit kebaikannya itu. Allah telah
berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan
(pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima)” (QS. Al-Baqarah : 264).

8. Selalu menjaga keutuhan rumah tangga dan tidak menuntut cerai tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wanita mana saja
yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada masalah yang berarti
(menurut kacamata syari’at), maka diharamkan baginya wangi bau surga”
(HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah , Ahmad).

Dan ingatlah wahai para wanita bahwa engkau telah Allah jadikan salah
satu perhiasan dunia. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita
shalihah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Dunia
adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita
shalihah” (HR. Muslim).

Tanggung Jawab Istri pada Anak


1. Menyusui anak hingga usia dua tahun.

Allah swt berfirman: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama
dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS.
Al-Baqarah : 233).

2. Mengasuh, memperhatikan, dan memelihara anak dengan nafkah yang diberikan oleh suami.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan kepada
Hindun radliyallaahu ‘anhaa: “Ambillah dengan baik (dari harta suamimu)
sebatas mencukupi keperluanmu dan anakmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Mendidik anak dengan pendidikan yang baik dan Islami.

Hal utama yang harus diberikan dan diperhatikan adalah pendidikan agama,
sebab pendidikan ini merupakan dasar yang akan membentuk tingkah laku
anak di kemudian hari. Penanaman aqidah tauhid yang kuat adalah mutlak
diberikan. Anak harus tahu kewajiban dan tugas mengapa ia dilahirkan di
muka bumi, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata tanpa
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Juga dengan penanaman
prinsip-prinsip keimanan dalam rukun iman. Kemudian diikuti dengan
penanaman kewajiban yang termasuk dalam rukun Islam yang lain seperti
sholat, zakat, puasa, dan haji. Dari konsep pembangunan anak yang
beriman dan beramal shalih, tentu saja harapan kita kelak ia menjadi
sesuatu yang berharga yang dapat bermanfaat bagi kita di akhirat. Dan
itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wasallam:“Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya
kecuali tiga hal, yaitu : shadaqah jariyyah, ilmu yang dimanfaatkan,
atau anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim).

[cahayaislam]

Add Comment