Sistem Produksi Paprika di Rumah Plastik

sayuran paprika

Paprika (Capsium annum var.Grossum) merupakan salah satu jenis sayuran yang dibudidayakan di bawah naungan (protected cultivation). Budidaya tanaman di bawah naungan (protected culvation) untuk produksi tanaman sayuran di negara-negara telah berkembang telah mencapai tahapan dimana teknik ini merupakan teknik yang utama untuk produksi sayuran. Namun, di negara-negara tropis seperti Indonesia, teknik inimasih terus dikembangkan. Petani di Indonesia menggunakan struktur bangunan rumah plastik yang sederhana untuk produksi sayuran tersebut.

Pada beberapa tahun belakangan ini, di Indonesia terdapat peningkatan permintaan sayuran yang di produksi di rumah plastik. Kualitas produk sayuran yang lebih baik yang dihasilkan dari rumah plastik daripada yang dihasilkan dilahan terbuka penyebab peningkatan permintaan sayuran yang diproduksi di rumah plastik. Pemintaan paprika juga meningkat terus, baik permintaan pasar lokal maupun untuk pasar ekspor. Pada saat ini, paprika dari Indonesia di ekspor ke singapura.

Pada umumnya, tanaman paprika yang dibudidayakan di rumah plastik menggunakan kultivar indeterminate dimana tanaman secara bertahap dan terus menerus tumbuh dan berkembang membentuk daun, batang, bunga, dan buah yang baru. Sebagai perbandingan kultivar paprika yang dibudidayakan di lahan terbuka (open field) adalah kultivar determinate dimana tanaman tumbuh sampai mencapai ukuran tertentu, kemudian menghasilkan buah dan berhenti tumbuh dan akhirnya mati. Pada saat ini, budidaya tanaman paprika di lahan terbuka dengan menggunakan kultivar determinate tidak berkembang seperti budidaya tanaman paprika di bawah naungan yang menggunakan kultivar indeterminate. Kultivar inderteminate memerlukan pemangkasan (pruning) untuk mempertahankan perumbuhannya. Dalam rangka untuk mengoptimalkan hasil tanaman paprika pada budidaya tanaman paprika di bawah naungan keseimbangan antara pertumbuhan vegetatif (daun dan batang) dan generatif, (bunga dan buah) harus dipelihara dan dipertahankan.

Rumah Plastik

Rumah plastik yang terbuat dari bambu merupakan rumah plastik yang umum digunakan oleh petani di Indonesia. Rumah plastik dari bambu selain harganya relatif murah, material bambu mudah didapatkan di hampir semua daerah. Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi rumah plastik bambu dengan konstruksi yang berat banyak mengurangi cahaya matahari yang penting untuk tanaman paprika.

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) telah memperkenalkan rumah plastik yang terbuat dari kayu dan metal, dimana rata-rata rumah plastik kombinasi kayu dan metal dapat mengintersepsi cahaya matahari 12,6% lebih tinggi daripada rumah plastik bambu. Adanya perbedaan dalam intersepsi cahaya matahari di dalam masing-masing rumah plastik menyebabkan adanya perbedaan hasil panen paprika dan bobot buah serta jumlah buah per tanaman dari tanaman paprika yang ditanam di rumah plastik kombinasi kayu dan metal lebih tinggi daripada tanaman paprika yang ditanam di rumah plastik bambu.

Rumah plastik kombinasi kayu dan metal terbuat dari batang kayu dengan ukuran 8/7 cm dan pipa metal 'galvanize' dengan ukuran 1/2". Atap rumah plastik menggunakan plastik UV 14%, sedangkan dinding rumah plastik menggunakan 'screen' dan bagian lantai atau dasar rumah plastik menggunakan mulsa plastik hitam perak.

Budidaya Paprika

Budidaya Paprika

Sebelum tanaman paprika ditanam di rumah plastik, benih atau biji paprika perlu disemai terlebih dahulu. Penyemaian benih paprika dapat dilakukan di baki persemaian dengan menggunakan arang sekam atau rockwool. Biasanya benih paprika berkecambah pada umur sekitar 7 hari setelah semai yang ditandai dengan tumbuhnya tunas pada lembaga. Pada umur 12-15 hari setelah semai, bibit semalam dipindahkan ke polybag kecil dengan ukuran diameter 15 cm. Bibit semalam dapat juga dipindahkan langsung ke polybag yang besar dengan ukuran diameter 30 cm untuk kemudian ditanam langsung di rumah plastik.

Tanaman semaian paprika dapat dipindahkan untuk tanam di rumah plastik setelah mempunyai dua daun atau sekitar enam minggu setelah semai. Pada setiap polybag ditanam dua paprika dan setiap tanaman akan dipelihara dua batang utama. Jarak tanam antara polybag yang biasa digunakan adalah 1.2m x 0,4m. Media tanam untuk tanaman paprika yang umum digunakan pada saat ini adalah arang sekam.

Rumah plastik kayu

Dalam sistem penanaman paprika di rumah plastik, penggunaan air diintegrasikan dengan penggunaan nutrisi atau pupuk. Dengan demikian pengelolaan penggunaan pupuk untuk tanaman paprika diintegrasikan dengan pengelolaan penggunaan air atau biasa juga disebut sistem fertigasi. Pengelolaan penggunaan air dan nutrisi difokuskan pada pemberian air dan nutrisi yang optimal pada berbagai tahap pertumbuhan tanaman untuk memberikan hasil tanaman yang maksimal.

Nutrisi untuk tanaman paprika sudah tersedia dipasaran dalam bentuk paket yang terdiri dari dua campuran pupuk yaitu A dan B sehingga sering disebut juga AB Mix. Frekuensi pemberian larutan nutrisi pada tanaman paprika dalam sehari mencapai 10 kali, tergantung pada kondisi cuaca dan over drain yang diukur. Nilai EC yang digunakan tergantung pada tingkat pertumbuhan paprika tersebut. Tanaman kecil, yang relative belum membutuhkan hara yang banyak, baisanya diberi EC 1,0 dan mulai membesar diberi EC 1,2-1,5. Bila lebih besar lagi, diberi EC 1,8-2,0 atau lebih tinggi lagi. pH optimum untuk suatu larutan untuk nutrisi agar nutrisi tersebut dapat tersedia bagi tanaman adalah 5,5 sampai 6,0. Periode pertumbuhan tanaman paprika pada umumnya mencapai 8 bulan. Panen tanaman paprika sebaiknya dilakukan pada saat kematangan buah mencapai 90%.

Sumber : Kementerian Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.  Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Jl. Takuban Perahu 517 Bandung 40391 Tlp. 022 2786345 Fax. 022 2786416