Penyakit Tungro

Kehilangan Hasil dan Status Penyebaran

Penyakit tungro merupakan salah satu kendala produksi padi nasional karena kehilangan hasil yang diakibatkannya tinggi, saat ini endemis terutama di daerah sentra produksi beras nasional di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Luas serangan penyakit tungro di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, kadang-kadang meluas dan sering disebut terjadi ledakan tungro. Ledakan tungro lima tahun terakhir ini terjadi antara lain di Kabupaten Klaten pada 1995 dengan luas tanaman terserang 12.340 ha dan Nusa Tenggara Barat pada 1998 dengan luas serangan mencapai 15.000 ha. Di samping itu penyebaran tungro di Jawa Barat, terutama di dataran rendah jalur pantura Kabupaten Subang semakin meluas.

Kehilangan hasil akan tinggi bahkan bisa tidak menghasilkan sama sekali bida kedua virus menginfeksi tanaman dan terjadi pada saat awal fase vegetatif tanaman. Kehilangan hasil terjadi kare jumlah anakan sedikit dan terganggunya fotosintesis akibat daun berwarna kuning sehingga jumlah klorofilnya berkurang. Virus bulat (RISV : rice tungro spherival virus batang (RTBV : rice tungro bacilliform virus) hanya dapat disebarkan oleh wereng hijau apabila wereng hijau telah memperoleh virus bulat.

Gejala dan Penyebab Penyakit

Tanaman padi yang terserang penyakit tungro terlihat kerdil dengan jumlah anakan lebih sedikit dibanding tanaman sehat, daun muda berwarna kuning dan nampak sedikit melintir. Perubahan warna kuning sebagai ciri khas serangan penyakit tungro dimulai dar uung daun. Khas penyakit tungro dalam satu hamparan padi terlihat tanaman berwana kuning dan tinggi tanaman tidak merata.

Penyakit tungro

Penyakit tungro disebabkan oleh jenis virus yaitu virus bentuk batang dan bentuk bulat yang hanya dapat ditularkan oleh wereng, terutama yang paling efisien adalah spesies wereng hijau Nephotettix virescens. Wereng hijau dapat mengambil kedua virus tersebut dari singgang, bibit voluntir, teki, dan ecceng. Wereng hijau spesies N. virescens telah mendominasi komposisi spesies wereng hijau di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Pupulasi N. virescens jarang menimbulkan kepadatan opulasi tinggi sehingga tidak menimbulkan kerusakan langsung. Dengan adanya kebiasaan pemencaran imago terutama di daerah tanam tidak serempak, penyebaran tungro efektif apabila ada sumber inokulum meskipun populasi wereng hijau rendah.

Strategi dan Teknik Pengendalian

Strategi pengendalian

Berdasarkan pemahaman adanya stadia tanaman peka infeksi, dinamika vektor, dan epidemiologi virus, maka strategi untuk mengendalikan tungro adalah mengusahakan perlindungan tanaman dini saat fase vegetatif awal, menekan proporsi vektor viruliferus, dan sanitasi selektif sumber inokum virus bulat. Beberapa komponen pengendalian dan teknik peringatan dini telah dirakit dan dipadukan dalam teknik pengendalian tungro untuk menerapkan strategi tersebut.

Teknik Pengendalian

  • Pra-tanam
    1. Rencanakan tanam bersamaan pada areal sehamparan minimal pada luas ± 40 ha, berdasarkan jangkauan dari satu sumber inokulum.
    2. Rencanakan waktu tanam dengan memperkirakan saat puncak kepadatan populasi wereng hijau dan keberadaan tungro pada saat tanaman telah melewati fase vegetatif.
    3. Bersihkan sumber inokulum tungro seperti singgang, bibit yang tumbuh dari ceceran gabah, rumput teki, dan eceng sebelum membuat persemaian. Wereng hijau memperoleh virus dari sumber-sumber inokulum tersebut. Biarkan pematang ditumbuhi rumput lain selain sumber inokulum tersebut untuk tempat berlindung musuh alami.
    4. Tanaman varietas tahan wereng hijau atau tahan tungro dengan memperhatikan kesesuaian seperti tercantum pada tabel ketahanan varietas (tabel 1 dan 2).
  • Tanaman (dari saat persemaian sampai fase vegetatif tanaman)
    • Untuk mengetahui anaman tungro, terutama apabila poin 1-4 pada periode pra-tanam tidak dapat dilakukan, amati ancaman tungro di persemaian dan saat tanaman muda dengan cara sebagai berikut :
      1. Amati populasi wereng hijau di persemaian dengan jaring serangga 10 kali ayunan. Kemudian lakukan pula uji infeksi virus dengan menggunakan larutan yodium pada 20 daun. Apablia hasil perkalian antara jumlah wereng hijau dan presentase daun terinfeksi sama atau lebih dari 75, maka tanaman terancam, sehingga perlu dilakukan penyemprotan antifidan dengan bahan aktif imidacloprid, thiametoxam atau bahan aktif lainnya di persemaian atau saat tanaman berumur 1 minggu setelah tanam (mst) untuk menghambat pemerolehan dan penularan virus. Apabila tidak mampu mengamati populasi dan tanaman terinfeksi di persemaian, amati gejala tungro saat tanaman berumur 3 mst.
      2. Tanam dengan cara legowo 2 baris atau 4 baris pemencaran wereng hijau berkurang pada pola sebaran inang yang ditanam secara legowo.
      3. Pada saat tanaman berumur 3 mst, apabila dari petakan alamiah dengan luas ± 100 m2 ditemukan 2 rumput tanaman bergejala tungro berarti tanaman terancam. Lakukan secepatnya aplikasi insektisida fungsi ganda yaitu insektisida yang dapat mematikan wereng hijau dan pada rasidu rendah bersifat antifidan, misalnya insektisida berbahan aktif imidacloprid atau thiamametoxam atau yang lainnya untuk menghambat pemerolehan dan penularan virus.
      4. Sawah jangan dikeringkan, usahakan paling tidak dalam kondisi air macak-macak. Sawah kering merangsang pemencaran wereng hijau yang dapat memperluas penularan.

Tabel 1. Tingkat ketahanan golongan varietas tahan wereng hijau terhadap koloni-koloni N. virescens

 Ketahanan golongan varietas tahan wereng hijau

Tabel 2. Ketahanan varietas tahan tungro dengan berbagai sumber inokulum tungro

Ketahanan varietas tahan tungro dengan berbagai sumber inokulum tungro

leaflet thn 2005

Informasi lebih lanjut silahkan hubungi :

Balai Penelitian Tanaman Padi Jln. Raya 9, Sukamandi, Subang Jaaw Barat. Phone (0260) 520157, Fax (0260) 521104 Website http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/